OPINI :PILKADA LUWU, RESTORASI SEJARAH DAN NILAI

  • Whatsapp

PROLOG

Sejarah adalah impact dari keberadaan manusia (Linguistik). Dalam kacamata Angtropologi beranggapan, bahwa tiada peradaban tanpa tulisan. Rangkain ini mengantarkan kita pada konklusi logis bahwa tiada sejarah tanpa tulisan.

Bacaan Lainnya

Melalui tulisan, sejarah dikisahkan dengan atau tanpa pretensi. Pretensi para pengisah sejarah  menjadi mutlak, karena itu sejarah kerap kali dibawah keruang gelap. Kebutaan paling mengenaskan dalama dunia yaitu rabun dalam memandang sejarah.

Sebagai generasi bangsa, tentu tidak ingin menjadi bagian sejarah yang mengesampingkan atau bahkan melupakan sejarah. Kita semua tentu masih mengingat dengan jelas, pidato Soekarno yang diberi judul “JAS MERAH” (jangan sekali-kali meliupakan sejarah), menegaskan kepada kita semua betapa pentingnya menghargai sejarah. Tentu pula kita tidak menghendaki sejarah berkhir sebagaimana gambaran keresahan seorang Francis Fukuyama dengan The End of History nya.

Berangkat dari fakta pentingnya menghargai sejarah, pula me-restore memori kita tentang Luwu dan sejarah yang menyertainya. Sejarah telah mencatat tentang kebesaran Luwu di masa silam. Tatanan pemerintahan yang berlaku di era kedatuan merupakan salah satu dari sekian banyak kisah yang cukup dihargai sebagai bagian dari sejarah tentang Luwu.

Dalam konteks kekinian, tidaklah semuda membalikkan tapak tangan untuk merestorasi sebuah nilai, pemikiran atau ajaran masa lalu, untuk dijadikan acuan dalam mengelolah pemerintahan. Upaya ini bahkan hanya dinilai sebagai sebuah proses kafuflase romantika tanpa harus tertarik dan tergugah untuk mewujudkannya sebagai sebuah konsep yang ideal dalam sistem kepemimpinan pemerintahan yang ada. Bukanlah sebuah kesalahan bila melahirkan etika dan moralitas para pemimpin/pemikir di masa lalu yang bernilai poisitif kita hadirkan hari ini demi pelayanan yang sesungguhnya kepada bangsa, khusunya masyarakat Luwu.

Luwu pada masa-masa emasnya, dikenal seorang pemikir/cendekia yang melegenda dengan petuah-petuahnya khususnya dalam pemerintahan. To Ciung Maccae Ri Luwu misalnya, merupakan salah satu pemikir Luwu dijamannya yang disegani dan terpandang. Pesan-pesannya  tentang bagaimana penyelenggraan pemerintahan yang bijaksana menjadi sumber ajaran dari pelbagai kerajaan kala itu, antara lain “Luka taro datu, telluka taro ade’. Luka taro ade’  telluka taro anang. Luka taro anang telluka taro to maegae. (Batal ketetapan Datu, tak batal ketetapan Pemangku Adat. Batal ketetapan Pemangku Adat, tak batal ketetapan Anang (primus interparis keluarga-keluarga besar). Batal ketetapan Anang, tak batal ketetapan orang banyak)”.

Bila dikaji sejarah mendalam, pesan moral tersebut menggambarkan bahwa pemerintahan yang baik senantiasa menyandarkan  pada kepentingan orang banyak / rakyat. Bercermin dari sejarah masa lalu para raja atau datu Luwu senatiasa memberikan pelayanan yang baik kepada rakyatnya, berlaku adil, memberikan jaminan keamanan, kenyamanan serta kepastian kesejahteraan rakyatnya.  Dalam deretan catatan sejarah, tercermin karakter etika dan moralitas para pemimpin-pemimpin Luwu kala itu, yang hari ini sangat dinantikan.

Seorang pemimpin / raja tenang dalam menjalankan pemerintahannya bilamana ia mampu menjalankan lima hal, yang pertama seorang pemimpin jujur terhadap Tuhannya, terhadap sesamanya pemimpin, terhadap daerah tetangganya serta tak kala pentingnya jujur kepada rakyatnya. Kedua, seorang pemimpin mampu mempertimbangkan segala sesuatu yang akan dilakukannya, baik yang belum terjadi maupun yang telah terjadi. Mengambil  keputusan dengan musyawarah-mufakat. Baik buruknya keputusan yang diambilnya lahir dari keputusan bersama. Ketiga, senantiasa bersifat dermawan, ikhlas serta pengasih dan penyayang kepda rakyatnya. Keempat, teguh pendiriannya, tidak ingkar dari janjinya, patuh kepada hukum yang berlaku, serta adil dalam berbuat. Kelima, seorang pemimpin harus berani. Berani mempertanggung-jawabkan tindakan dan keputusannya, berani berbuat benar dan berani ia melawan ketidak adilan.

Etika dan moral pememimpin sangat menentukan arah pemerintahannya. Pula hal tersebut berlaku kepada masyarakat dalam memilih dan menetukan calon pemimpinnya. Mengabaikan atau bahkan menghianati rakyat tentunya kontras dari pilhan rakyat. Dalam konteks kekinian, bukanlah hal yang mustahil bila pemimpin, calon pemimpin menghadirkan nilai-nilai luhur etika dan moralitas para raja/datu, pemimpin-pemimpin Luwu terdahulu. Masyarakat hari ini sangat merindukan seorang pemimpin ideal dalam pandangannya.

 

PILKADA LUWU

Perhelatan demokrasi di Kab. Luwu kini diambang mata. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung akan dihelat 27 Juni mendatang. Tentunya masyarakat Luwu telah dan akan menetukan pilihannya, sebagaimana cerminan program visi-misi  yang di bawah oleh para calon pemimpin yang akan bertarung memperebutkan hati masyarakat Luwu.

Pilkada kali ini merupakan momentum titik-balik “kebangkitan” Luwu kedepan. Masyarakat tentu tidak menghendaki terbelenggu dengan keterpurukan, gelih terhadap ketidak-adilan, merintih dengan carut-marutnya penyelenggaraan pemerintahan yang dirasakan. Masyarakat tentunya merindukan pemimpinnya yang revolusiner, visioner, mampu mengantarkan harapan dan asa menuju titik tiba yang didamba seluruh lapisan masyarakat.

Teropong-teropong calon pemilih terhadap calon pemimpinnya, kini mulai terasa seiring dimulainya tahapan pilkada yang telah ditetapkan KPU Luwu. Pelbagai gambar calon Bupati terpampang di titik-titik tertentu. Calon Bupati pun berlomba meraih simpati pemilihnya, dengan kemasan visi-misi yang bervariasi.

Calon pemilih pun tentunya akan selektif memilih pemimpinnya.  Simpati mereka tentunya jadi rebutan, tergantung kepiawaian para kandidat menyuguhkan program-programnya bila ingin menjadi yang terpilih. Soal pilih-memilih, semuanya terpulang tentang bagaimana etika dan moralitas yang menjadi tangga awal seorang pemimpin memperlakukan masyaraktnya lebih baik.

Pilkada Luwu September 2013 lalu telah memecahkan ‘mitos’. Dalam persepsi awam kala itu beredar asumsi bahwa seorang Bupati Luwu masing-masing hanya memimpin satu periode pemerintahan.  Faktanya, pilkada saat dimenangkan oleh Bupati incumben yakni A. Mudzakkar.

Pilkada Luwu kali ini pun akan mengukir sejarahnya sendiri. Pertama kalinya diikuti oleh calon Bupati dan calon wakil Bupati dua pasangan calon sejak pilkada langsung dihelat. Adalah Basmin Mattayang berpasangan Syukur Bijak dan Patahudding berpasangan Emmy Tallesang hadir sebagai calon Bupati dan calon wakil Bupati Luwu tahun 2018.

Pata-Emmy ikut bertarung untuk pertama kalinya sebagai cabup dan cawabup Luwu. Pula disisi lain Basmin-Syukur merupakan pasangan cabup dan cawabup pertama kalinya  yang pernah menjabat Bupati dan wakil Bupati di Luwu kembali ikut mencalonkan diri sebagai cabup dan cawabup Juni mendatang.

Dua paslon Bupati dan wakil Bupati tersebut di atas merupakan putra terbaik Luwu. Lagi-lagi Pertama kalinya mempertemukan calon Bupati Luwu berasal dari wilayah yang sama. Basmin dan Pata sama-sama berdarah Cilallang begitu pula Syukur-Emi, keduanya berdarah Walmas.

Menelisik biografi kedua paslon Bupati dan wakil Bupati Luwu tersebut masih memiliki ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang kental. Olehnya, sepantasnyalah pilkada Luwu merupakan cerminan sejarah pilkada yang paling aman serta paling demokratis di Indonesia.

Musababnya jelas dan terukur, kedua paslon selain putra terbaik Luwu juga masih diikat kekerabatan yang kental. Tentu keduanya pula akan memberikan teladan yang baik terhadap masing-masing pendukungnya.

Berkaca dari fakta tersebut di atas, masyarakat Luwu tidak perlu saling gontok-gontokan, tidak perlu saling menjelek-jelekkan apatah lagi saling membeci karena beda pilihan, sebab kedua pilihan calon berasal dari keluarga yang sama. Calon Bupati dan wakil Bupati Luwu tersebut akan dipilih berdasarkan program visi-misi yang mereka canangkan untuk masyarakat Luwu. Siapapun yang terpilih, itulah pilihan demokratis masyarakat Luwu. Apapun itu, pilkada kali ini sebenarnya bukanlah ajang pembuktian sejarah semata.

Akan tetapi, bagaimana membawa Luwu ke arah yang lebih baik. Lebih mensejahterakan masyarakat, membebaskan belenggu penindasan terhadap masyarakat, menakhodai pemerintahan dengan arah yang lebih jelas serta mampu mensejajarkan Luwu atau bahkan  melampaui Kabupaten lainnya di Indonesia. Public Luwu sangat mengidam-idamkan menjadi daerah yang terpandang, daerah yang bersih dari Korupsi, daerah yang maju dan merdeka serta bermartabat.

Seorang pemimpin yang mampu menghadirkan kultur nilai etika dan moral, niscaya mampu melahirkan masyarakat yang bermatabat. System nilai inilah yang hari ini mulai luntur dari para pemimpin negeri ini. Harga diri yang terjaga menjadi titik-tuju yang didamba. Masih dalam catatan sejarah leluhur Luwu, siri’ merupakan ruh dalam pemersatu antara pemimpin dan masyarakatnya.

Masih teringat dengan jelas slogan yang diwariskan oleh leluhur kita yang berbunyi “Siri’ emmitu ri onroang ri lino,Utettong ri ade’e Najagainnami siri’na Naia siri’e sunge’ naranreng, Nyawa nakira-kira. Siri’ emmitu riaseng tau Narekko de’i siri’ta, taniaki tau, rupa tau mani’ asenna”

Berani untuk tidak berhenti membangun mimpi-mimpi besar masa depan yang lebih baik adalah mutlak, dan untuk itu bersiaplah melalui fase-fase kesedihan. Restorasi nilai-nilai luhur senantiasa didamba untuk membangun dan mengembalikan nilai-nilai siri’ yang menjadi ruh dari segala tindakan, mengantarkan kita pada kesamaan perspektif yang akan diejawantahkan dalam berbagai dimensi kehidupan.

“Ide besar tidak selamanya Sekarat di atas permukaan dunia yang Kering”

Semoga..

Penulis : Sarif Karennu

 

Pos terkait