AMAN Tana Luwu: Hutan Lutra Diduga Salah Urus, Pemerintah Harusnya Minta Maaf

  • Whatsapp

MEDU.ONLINE | Penyebab pasti banjir bandang yang menewaskan puluhan warga dan menyebabkan ribuan orang mengungsi di Luwu Utara pertengahan Juli 2020 lalu masih simpang siur.

Polemik atas penyebab bencana banjir bandang itu masih terus menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya

Namun, AMAN Tana Luwu lewat siaran persnya, Jumat 14 Agustus 2020 memastikan, jika salah satu pemicu bencana ekologis tersebut adalah tata kelola lingkungan hidup yang dianggap amburadul.

Luas hutan di Luwu Utara 750,268 Hektar adalah yang terbesar di Sulsel.

Ketua AMAN Tana Luwu, Bata Manurun mengatakan, banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara merupakan salah satu bencana yang terbesar di Tana Luwu, salah satu faktor yang mendasar terjadinya banjir bandang di Luwu Utara disebabkan intensitas hujan yang tinggi yang mengakibatkan terjadinya longsor di beberapa titik di Hulu.

“Banyak hasil investigasi yang sudah diberitakan terkait penyebab banjir dan hampir semua hasil investigasi menyoroti kejadian yang ada di Hulu dan dampak yang ada di Hilir, tetapi belum ada satupun yang mengungkap atau menyampaikan ada apa sajakah di daerah tengah antara hulu dan hilir?,” kata Bata.

Lanjut dia, “pengamatan lapangan yang dilakukan oleh AMAN Tana Luwu sebelum banjir bandang, bahwa daerah Radda dan Masamba yang terdampak banjir bandang terdapat beberapa perkebunan kelapa sawit yang dimiliki empat perusahaan pemegang izin dan satu lokasi peternakan sapi yang diperkirakan luas lahan keseluruan 23 ribu hektar,” imbuh Ketua AMAN Tana Luwu itu.

Dan semua lokasi, ini merupakan alih fungsi, pengamatan lain juga yang dihimpun oleh AMAN adalah di bagian hulu ada beberapa tempat aktivitas pengambilan kayu (illegal loging) yang semua pesanan dari luar tentunya juga ini dilakukan karena ada izin, ungkapnya.

AMAN Tana Luwu nantinya kembali akan merilis beberapa fakta-fakta lapangan terkait alih fungsi lahan di Lutra dan aktivitas lainnya, tambah Bata.

Nanti akan kami sampaikan ke semua pihak untuk diketahui dan sebagai bahan pembelajaran serta evaluasi kesalahan dan sekaligus tawaran solusi bagaimana cara mengurus hutan yang baik, tetapi terlepas dari itu semua, Negara dalam hal ini Pemerintah harus jujur mengakui kesalahannya dalam mengurus hutan dan meminta maaf kepada masyarakat atas kelalaiannya tersebut sehingga mengakibatkan banyaknya korban serta kerugian materi yang dialami warga Luwu Utara.

“Kalau daerah penyangga masih bagus banjir tentu tidak akan separah ini karena sebahagian besar akan tertahan di tengah, tapi karena daerah penyangga sudah rusak karena alih fungsi hutan jadi perkebunan sawit makanya seperti begini parahnya,” pungkas Bata. (rls)

Pos terkait