AMAN Tana Luwu Lakukan Investigasi dan Advokasi Soal Dugaan Penyebab Banjir di Luwu Utara, Kesimpulan Awalnya Mengejutkan!

  • Whatsapp
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Luwu saat melakukan investigasi menemukan adanya penebangan pohon yang diduga pemicu banjir bandang di Luwu Utara, belum ada pihak yang merasa bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini. (Foto: Ist)

MEDU-ONLINE  |  Banyak wacana beredar di tengah masyarakat soal penyebab banjir bandang di Luwu Utara, yang Senin pekan lalu (13/7) memporakporandakan 6 kecamatan terdampak di kabupaten berjuluk Bumi Lamaranginang tersebut.

Salah satu pihak yang ikut peduli dan selama ini dikenal konsisten terhadap isu-isu lingkungan hidup dan hak ulayat, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Luwu melalui ketuanya Bata Manurun, lewat sambungan telepon memberikan keterangan pers soal dugaan penyebab banjir di kawasan tersebut, Senin, 20 Juli 2020 pagi.

Menurutnya, banjir bandang di Luwu Utara adalah bencana ekologis yang diduga diakibatkan pembukaan lahan secara massif oleh oknum atau kelompok yang memperoleh izin pemanfaatan lahan dan pengelolaan hutan.

“Bukti awal yang menguatkan adalah adanya material kayu dari hasil pemotongan di hulu menggunakan mesin pemotong,” ujar Bata kepada awak media.

Bata Manurun, aktivis/pegiat lingkungan hidup serta hak ulayat masyarakat adat yang juga Ketua AMAN Tana Luwu. (Foto: Ist)

Ia melanjutkan, AMAN Tana Luwu sampai saat ini masih melakukan investigasi dan advokasi. Dan kalau terbukti ada ilegal loging serta pembukaan lahan untuk perkebunan skala besar, AMAN akan mengajukan gugatan kepada pihak yang melakukan pembukaan lahan secara massif yang menyebabkan banjir bandang tersebut.

Bata Manurun kembali menegaskan, “jangan mengkambinghitamkan hujan apalagi menyalahkan masyarakat, kalau memang pemerintah pernah mengeluarkan izin konsesi perkebunan skala besar atau izin lainnya yang mengakibatkan terjadinya banjir bandang di Luwu Utara, maka pemerintah harus jujur mengatakan dan meminta maaf kepada masyarakat dan kepada semua pihak yang dirugikan,” tandasnya.

Diketahui, banjir bandang di Luwu Utara, Senin (13/7) itu membuat ribuan masyarakat Luwu Utara terutama di kawasan kecamatan Masamba, Baebunta dan Sabbang mengungsi. Selain merendam rumah dan perkantoran, banjir tersebut juga menelan puluhan korban jiwa, korban luka, trauma dan puluhan lain masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.

Banjir bandang tersebut selain membawa material pasir dan lumpur, juga menghanyutkan ribuan kubik potongan kayu gelondongan. Dusun Petambua Desa Radda di kecamatan Baebunta, serta Dusun Lombok, Dusun Pontaden di kelurahan Bone dan Bone Tua kecamatan Masamba juga Dusun Pongko Desa Malimbu, Desa Salama, Pekendekan dan Desa Sabbang adalah kawasan paling parah atas peristiwa bencana yang merupakan tragedi kemanusiaan terbesar di Tana Luwu selama ini. (rilis)

 

Pos terkait