Cuma Pindah Tangan dari Suami ke Tangan Istri, Golkar Luwu Utara di Tangan Indah Bisa Apa?

  • Whatsapp

MEDU-ONLINE | Cerita mengenai sepak terjang Partai Golkar seperti tidak ada matinya. Partai warisan orde baru itu cepat mengikuti perkembangan zaman dan tidak meninggalkan pakem lamanya, yakni selalu dekat dengan sumbu kekuasaan. Dengan begitu, Golkar tetap eksis dan bisa bertahan hidup di tengah persaingan antarparpol terlebih kian bermunculannya parpol baru di era reformasi.

Di Luwu Raya, misalnya. Setelah menggandeng wakil walikota, Rahmat Masri Bandaso, Golkar Sulsel dibawah kendali Taufan Pawe kembali merangkul bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani masuk kandang beringin, lewat selembar surat diskresi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang diteken Airlangga Hartarto, ketua umum Golkar.

Bacaan Lainnya

Menariknya, dalam perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Luwu Utara, mantan orang nomor satu di Luwu Utara, H Arifin Junaidi (Arjuna) malah curhat di forum.

Sang mantan bupati yang juga Plt Golkar Luwu Utara berkeluh kesah di hadapan Taufan Pawe usai gagal menjadi ketua Golkar Lutra.

“Ada kekecewaan itu manusiawi, tapi saya lihat mukanya pak ketua (Taufan Pawe) dan wajahnya ibu Indah (Putri Indriani) hilang itu semua (kekecewaan),” kata Arjuna, di hotel Bukit Indah, Kelurahan Bone Tua, Kecamatan Masamba, Minggu (5/9/2021) saat memberi sambutan dalam kapasitasnya sebagai sesepuh sekaligus purna tugas menjabat Plt Ketua Golkar.

Pada awal sambutannya, Arjuna juga mengkritik Ketua Panitia Musda, Muh Azhal Arifin lantaran legislator Golkar itu “lupa” menyenggol namanya saat menyampaikan laporan panitia.

“Saya maafkanki (Azhal), karena nama saya tidak disebut. Padahal saya masih Plt Ketua,” tuturnya.

Arjuna pada kesempatan itu mengakui dirinya sudah tidak punya daya dan pengaruh lagi.

“Tidak ada lagi daya saya untuk mempengaruhi rakyat, tidak ada lagi wibawa, keliru kalau saya ditunjuk ketua. Saya tidak punya apa-apa,” tuturnya.

Musda Partai Golkar Luwu Utara dihadiri Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Taufan Pawe.

Termasuk calon tunggal di Musda kali ini, Indah Putri Indriani.

Jalannya Musda

Seperti ramai diberitakan, perebutan kursi Ketua DPD II Partai Golkar Luwu Utara akhirnya dimenangkan oleh Indah Putri Indriani.

Bupati Luwu Utara dua periode menyingkirkan seniornya H Arifin Junaedi dengan modal diskresi dari Ketua DPP Partai Golkar.

Power Arjuna yang juga Plt Ketua Partai Golkar Luwu Utara sekaligus sebagai mantan Bupati Luwu Utara sudah habis, alias lobet.

Indah mengantongi diskresi seperti dituturkan Departemen Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi DPP Partai Golkar, Muhammad Baliah.

Naiknya Indah ke tampuk pimpinan Golkar Lutra persis sama ketika sang suami, Muhammad Fauzi diberi amanah pada  2 Februari 2017 silam di tempat yang sama, di hotel Bukit Indah.

Waktu itu, Nurdin Halid (NH) yang juga anggota DPP Golkar merangkap jabatan sebagai ketua DPD I Golkar Sulsel memberi surat diskresi kepada Abang, sebutan akrab anggota DPR RI, Muhammad Fauzi, suami bupati Indah. Bargainingnya ketika itu, nama NH diusung sebagai calon gubernur oleh seluruh DPD II se Sulsel. Maka jadilah Abang ketua Golkar Lutra dengan lancar dan mulus.

Kembali ke Musda Golkar Lutra, menurut Baliah, DPP menerbitkan diskresi bagi Indah untuk kepentingan Musda DPD II Partai Golkar Luwu Utara.

Diskresi diteken Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto.

“Untuk Musda Golkar Luwu Utara, diskresi dari DPP sudah keluar untuk ibu Indah Putri Indriani,” ujar Baliah saat dikonfirmasi, Rabu (1/9/2021).

Salah satu pertimbangan mendasar DPP memberikan diskresi kepada Indah, kata dia, karena merupakan calon usungan Partai Golkar di Pilkada 2020.

“Hanya untuk satu nama (Indah) dan diskresi itu sepenuhnya adalah kewenangan ketua umum,” kata Baliah kala itu.

Sebelum ada jadwal musda, perebutan kursi ketua Partai Golkar Luwu Utara antara Indah dan Arjuna berlangsung menarik.

Pemecatan sejumlah ketua koordinator kecamatan (korcam) mewarnai proses Musda dan berbagai dinamika lainnya.

Sebagaimana diketahui, baik Indah maupun Arjuna sama-sama harus mengantongi diskresi dari DPP.

Sebab keduanya belum genap lima tahun berstatus kader partai.

Salah satu aturan internal Partai Golkar menyebutkan setiap kader yang ingin menjadi ketua baik ditingkat DPD I ataupun DPD II minimal telah berstatus kader partai 5 tahun.

Khusus Arjuna, kendati orang lama, dirinya pada 2019 meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan PAN.

Bahkan ia mendapat jabatan majelis penasehat partai dan mendaftarkan dirinya untuk caleg DPR RI di PAN.

Adapun Indah juga belum genap lima tahun berstatus kader Partai Golkar.

Pada 2019 lalu, bupati perempuan pertama di Sulsel ini masih berstatus kader Partai Gerindra.

Ia bahkan menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Luwu Utara.

Beberapa hari lalu Indah dikabarkan sudah mengantongi diskresi sehingga Musda langsung dijadwalkan.

Ia terpilih pada Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Minggu 5 September 2021 di Hotel Bukit Indah Jalan Simpurusiang, Masamba.

Penetapan Indah Putri Indriani setelah pembacaan surat diskresi dari DPP Partai Golkar.

Indah sapaan akrab Bupati perempuan pertama di Sulsel, mengaku tidak akan kasih malu Partai Golkar. “Saya September ini sudah dua tahun menjadi kader partai Golkar. Saya akan besarkan Partai Golkar,” kata Indah.

Ia juga menegaskan, keputusannya untuk memimpin Golkar Luwu Utara tidak lepas dari kepentingan masyarakat Luwu Utara. Bukan untuk kepentingan pribadinya. “Partai Golkar ini fraksi utuh di DPRD. Kadernya Ketua DPRD. Kalau macam-macam bisa dikerjai kita,” ungkapnya.

Menurut Indah, memimpin Golkar di Luwu Utara tidak lain untuk menjaga kemitraan strategis antara eksekutif dan legislatif. Sebab, banyak program yang sudah ditetapkan sebagai penjabaran visi misi BISA (Bersama Indah-Suaib) dalam RPJMD yang butuh dukungan legislatif.

Dia meminta kepada seniornya Arifin Junaidi untuk tetap memberikan arahan dan bimbingan kepadanya. Dinamika kader Golkar memang sangat keras. Namun, setelah adanya keputusan partai, semuanya akan tunduk pada putusan partai. “Kader Golkar ini tidak ada yang lari dari putusan partai,” paparnya.

Terpilihnya Indah Putri Indriani sebagai Ketua Partai Golkar Luwu Utara dihadiri langsung Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Taufan Pawe serta sejumlah Fungsionaris Partai Golkar Sulsel.

Sebelumnya hanya ada dua calon yang resmi mendaftar sebagai Calon Ketua Partai Golkar Lutra, diantaranya H Arifin Junaidi dan Indah Putri Indriani.

Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Taufan Pawe meminta supaya Indah Putri Indriani untuk membesarkan Partai Golkar Lutra. “Golkar Lutra harus tambah kursi di DPRD dan menambah jumlah suara di DPRD Sulsel dan DPR RI,” paparnya.

Terpilihnya Indah sebagai nahkoda perempuan di Luwu Utara menambah daftar kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memimpin DPD II Golkar di Sulsel.

Indah menjadi kepala daerah/wakil kepala daerah ke sembilan di Sulsel yang memimpin DPD II Golkar.

Sebelumnya 8 kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terpilih memimpin DPD II Golkar di daerah masing-masing. Mereka adalah Bupati Selayar Basli Ali, Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak, Bupati Bone Andi Fahsar M Padjalangi, Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, Bupati Toraja Utara Yohanis Bassang.

Kemudian Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari, Wakil Bupati Sinjai Andi Kartini Ottong, dan Wakil Wali Kota Palopo Rahmat Masri Bandaso.

Indah juga tercatat sebagai bupati dua periode kelima yang memimpin DPD II Golkar di Sulsel. Empat Bupati dua periode lainnya adalah Basli Ali, Kaswadi Razak, Fahsar Padjalangi, dan Iksan Iskandar.

Sementara untuk Wakil Bupati dua periode baru satu orang yang terpilih pimpin DPD II Golkar yakni Rahmat Masri Bandaso. Suhartina Bohari dan Andi Kartini Ottong masing-masing baru satu periode jadi Wakil Bupati.

Meski demikian, kiprah Indah di pucuk pimpinan parpol bukan hal baru. Sebelumnya ia pernah menjabat ketua Gerindra Lutra dan menyingkirkan Arsyad Kasmar, sebelum akhirnya jabatan ketua parpol besutan Prabowo itu dikembalikan ke pengusaha sawit itu kembali jelang Pilkada 2020 lalu. (*)

Pos terkait