Oleh: Lisna Liana
Jumat, 6 Maret 2026
Ramadan Pergi, Akankah Kepedulian Ikut Berlalu?
MEDIA DUTA,BARRU-Setiap bulan Ramadan, suasana kepedulian sosial terasa semakin kuat di tengah masyarakat. Kotak amal di masjid-masjid menjadi lebih berat, antrian penyerahan zakat fitrah semakin panjang, dan berbagai kegiatan berbagi seperti sedekah subuh, pembagian takjil, hingga infaq Jumat berlangsung dengan penuh semangat. Masyarakat seakan menampilkan versi terbaik dirinya—lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih solider.
Namun sebuah pertanyaan sederhana sering muncul setelah Ramadan berlalu: mengapa semangat berbagi itu seolah ikut menghilang bersama berakhirnya bulan suci?
Fenomena ini bukan sekadar persoalan ibadah ritual, melainkan berkaitan erat dengan karakter sosial masyarakat. Di Kabupaten Kepulauan Selayar, pertanyaan tersebut juga memiliki kaitan langsung dengan upaya peningkatan Indeks Kesalehan Sosial (IKS) yang menjadi salah satu indikator pembangunan daerah.
Kepedulian Sosial dan Tantangan IKS
Dalam rencana pembangunan daerah Kepulauan Selayar tahun 2025–2029, Misi ke-6 menempatkan penguatan pembinaan sosial, budaya, dan agama sebagai prioritas penting. Salah satu indikator keberhasilannya adalah Indeks Kesalehan Sosial, yang mengukur kualitas perilaku sosial masyarakat melalui lima dimensi utama, yakni solidaritas sosial, kerja sama, toleransi, keadilan, dan ketertiban umum.
Pada tahun 2025, nilai IKS Kepulauan Selayar tercatat sebesar 77,91, meningkat dari 77,87 pada tahun sebelumnya. Meski mengalami kenaikan, perhatian khusus masih perlu diberikan pada dimensi solidaritas sosial, yang menggambarkan tingkat kepedulian dan kebiasaan masyarakat dalam membantu sesama.
Ironinya, nilai solidaritas sosial justru sering terlihat paling kuat pada bulan Ramadan. Namun setelah bulan suci berlalu, semangat tersebut belum sepenuhnya bertahan sebagai kebiasaan sepanjang tahun.
Zakat sebagai Ibadah Sosial
Dalam kajian akademis mengenai zakat dan kesalehan sosial, para peneliti menegaskan bahwa zakat tidak hanya berdimensi ibadah ritual semata. Zakat memiliki dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi mahdah, sebagai hubungan antara manusia dan Tuhan, serta dimensi muamalah, yang menguatkan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Peneliti Ahmad As’at Patilima dan Sri Dewi Yusuf dari IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat (JURRAFI) edisi April 2023 menjelaskan bahwa memisahkan dua dimensi tersebut dapat mengurangi makna zakat hingga sekadar rutinitas tahunan.
Padahal dalam perspektif kesalehan sosial, kualitas iman seseorang tidak hanya tercermin dari intensitas ibadah ritualnya, tetapi juga dari sejauh mana kepedulian sosialnya dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
Menumbuhkan Solidaritas Sepanjang Tahun
Zakat, infaq, dan sedekah pada hakikatnya merupakan latihan kesadaran bahwa dalam setiap rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain yang perlu ditunaikan. Nilai inilah yang menjadi fondasi solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat.
Ramadan memang menjadi momentum terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan memberi, karena suasana spiritual dan sosial yang mendukung. Namun tantangan sesungguhnya adalah menjaga kebiasaan tersebut agar tetap hidup setelah Ramadan berakhir.
Di Kepulauan Selayar, potensi kepedulian sosial sebenarnya cukup besar. Data dari pemerintah daerah mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, BAZNAS Kepulauan Selayar berhasil menghimpun dana zakat, infaq, dan sedekah sebesar Rp5.583.738.201 yang berasal dari ASN, non-ASN, masyarakat umum, serta warga Selayar di perantauan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat telah tumbuh dan memiliki kekuatan nyata. Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi agar semangat berbagi tidak hanya meningkat pada Ramadan, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ikhtiar Bersama untuk Kesalehan Sosial
Meningkatkan Indeks Kesalehan Sosial tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan ikhtiar bersama seluruh masyarakat. Salah satu langkah paling sederhana adalah menjaga semangat berbagi yang selama ini tumbuh subur pada bulan Ramadan.
Apabila kebiasaan berzakat, berinfaq, dan bersedekah dapat terus dijaga sepanjang tahun, maka dimensi solidaritas sosial dalam IKS akan semakin kuat. Bukan karena dorongan regulasi semata, tetapi karena kesadaran masyarakat yang tulus untuk saling peduli.
Ramadan memang akan berlalu. Namun nilai kepedulian yang dilatih selama bulan suci seharusnya tidak ikut menghilang. Justru dari Ramadanlah kebiasaan baik itu dibawa pulang, menjadi bekal untuk sebelas bulan berikutnya.
Selayar yang saleh bukan hanya Selayar yang religius dalam ibadah, tetapi juga Selayar yang masyarakatnya saling peduli—hari ini, esok, dan sepanjang tahun.(Hana)






