MEDU ONLINE, LUWU UTARA — Salah satu sistem pertanian yang miliki dampak positif dalam menjaga produktivitas kesuburan lahan dan menjadi penyangga dari perubahan iklim serta mampu beri jaminan keberlangsungan produksi kakao di Luwu Raya dengan cara petani menerapkan sistem agroforestri.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI) Dr. Ir. H. Badaruddin Puang Sabang MM, pada kegiatan sosialisasi dan silahturahminya bersama keluarga petani disejumlah desa di Kabupaten Luwu, belum lama ini.
Menurutnya solusi bagi petani kakao bukan dengan beralih fungsi lahan dengan mengganti jenis tanaman ke komoditi lainnya, namun yang harus dilakukan petani kakao adalah mengganti sistem budidaya kakao dari sistem monokultur ke sistem Agroforestri.
Sistem Agroforestri, kata Tokoh pemerhati pertanian yang akrab disapa Puang Badar ini, adalah usaha budi daya yang mengkombinasikan elemen pertanian, (Termasuk di dalamnya perikanan dan peternakan) dengan elemen kehutanan, seperti pohon, semak, dan tanaman lainnya, baik secara bersamaan maupun secara rotasi.
“Dampak positif dari penerapan sistem Agroforestri berpotensi menjaga produktivitas dan menjamin keberlangsungan produksi kakao di Luwu Raya. Dengan pendapatan petani dijamin mencapai 10 kali lebih besar. Hitungannya, produksi kakao ditambah dengan produksi tanaman lainnya yang ada dalam kebun, misal dengan buah-buahan (pisang, durian, jengkol dan jambu mete), kayu-kayuan (gamal, jati, dan jabon), serta tanaman seperti nilam, cabai, atau lada,” ujar Puang Badar kepada awak media, Kamis (23/11/2023).
Ia menjelaskan bahwa permasalahan utama yang dihadapi petani kakao di Luwu Raya saat ini antara lain, dampak perubahan iklim dan sudah terjadinya degradasi tanah diarea perkebunan kakao. Sehingga dibutuhkan penerapan sistem agroforestri yang memiliki akumulasi Serasah (sisa-sisa organik tanaman).
Keberadaan Serasah, lanjut Puang Badar, di permukaan tanah sangatlah penting karena menjadi sumber unsur hara bagi tanaman kakao. Selain itu, sistem Agroforesti dapat menjadi penyangga (buffer) dari suhu ekstrim. Mengingat kakao adalah komoditas yang sensitif terhadap perubahan suhu udara dan kekeringan.
“Melimpahnya Serasah dalam sistem agroforestri akan memicu aktivitas organisme tanah, misalnya cacing tanah, rayap, dan semut. Aktivitas makro organisme itu akan menciptakan ruang pori tanah hingga memudahkan air hujan untuk meresap. Ini tentu memicu perbaikan kualitas tanah secara signifikan dan sistem ini diyakini dapat kendalikan perubahan iklim bagi tanaman kakao karena mampu menyimpan karbon 2,5 kali lebih tinggi serta menurunkan rata-rata suhu udara sehingga menjadi penyangga dari suhu ekstrim,” tambahnya.






