Kolom: KESENYAPAN MENGHAMPIRI BUKU

  • Whatsapp

oleh: Dewi Nurwati *)

Buku bagi generasi millenial hanyalah pajangan semata, karena kesibukannya dengan sebuah gadget buku pun dikesampinagan. Buku di baca ketika mereka mencari materi dan memenuhi tugas saja. Tak hanya itu budaya membaca pun mulai luntur ketika sebuah gadget dengan bermacam aplikasi nya yang canggih mulai meningkatkan kualitasnya.Membaca buku senantiasa membawa otak kita untuk lebih berfikir cerdas dan kritis, tak hanya itu banyak pengalaman dan nilai estetika yang dapat diambil saat kita membaca buku, memahami, dan mendalami apa yang ada dalam buku tersebut.

Bacaan Lainnya

Minimnya apresiasi buku, dan rendahnya tingkat dan kemampuan membaca orang Indonesia, patut diprihatinkan. Hal ini mengingat betapa besar peran dan pengaruh buku pada perkembangan dan peradaban umat manusia. Seperti dicatat Harvey Mackay, motivational speaker terkenal, hidup manusia diubah melalui dua cara yakni lewat orang yang kita jumpai dan bahan bacaan yang kita baca (Our lives change in two ways: through the people we meet and the book we read). Ini dicatat Mackay dalam buku Swim with Sharks without Getting Eaten Alive.

Benar, pada intinya, hidup kita memang diubah oleh dua hal saja. Pertama, dari pertemuan dengan orang lain. Pertemuan ini bisa formal (proses belajar-mengajar), bisa juga informal (di sembarang tempat dan kesempatan). Siapa saja yang kita temui, dialah guru. Bertemu orang baik dan cerdas, kita potensial menjadi orang baik dan cerdas. Sebaliknya, bertemu dengan orang jahat dan dungu, kita pun potensial seperti mereka juga.

Kedua, hidup kita diubah melalui buku yang kita baca. Buku memiliki daya luar biasa. Seperti manusia, jika kita membaca buku bermutu, kita potensial menjadi pandai. Jika membaca buku yang baik, kita berpotensi jadi orang baik pula. Sebaliknya, jika membaca buku yang tidak bermutu dan tidak baik, kita pun berpotensi demikian. Dengan membaca, seseorang terbuka wawasannya. Dari membaca, seseorang mendapat ide-ide baru yang, jika dilaksanakan, akan mendatangkan keuntungan.
Sejauh mana buku mempengaruhi kehidupan, tentu setiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Ada orang yang sekali baca, langsung buku mempengaruhinya. Buku dapat mempengaruhi mind set dan perilaku seseorang. Namun, ada pula orang yang telah melahap sekian banyak buku, perilakunya tetap sama seperti sebelumnya. Buku bisa jadi guru. Namun, bisa juga menjadi tidak apa-apa. Sebagaimana guru-manusia, guru-buku pun tak akan memberi makna apa-apa, kalau tak hendak dimaknai.

Di Indonesia, peringatan Hari Buku Sedunia seolah terdengar senyap. Kita seolah luput dari perayaan tersebut, jika pun ada hanya perayaan-perayaan komunal yang digagas komunitas baca atau organisasi lainnya, bukan perayaan nasional. Telinga kita lebih populer dengan peringatan hari buku lokal, yaitu Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang jatuh setiap 17 Mei, bertepatan dengan momentum peresmian Perpustakaan Nasional.
Dalam kesenyapan kita, beberapa bagian dunia ramai menggaungkan Hari Buku Sedunia. Misalnya, Swedia merayakan Hari Buku Sedunia dengan menyelenggarakan kontes buku terbaik yang dipilih, baik oleh anak-anak maupun dewasa. Irlandia menyelenggarakan festival buku sebulan penuh di ibukota negara, Dublin. Di Brazil berbagai toko buku menyampaikan kampanye mengenai kesusasteraan untuk anak-anak. Sejak tahun 2008, Mexico mengadakan pembacaan buku di depan publik selama 12 jam berturut-turut.

Kemarin tepat pada tanggal 23 April UNESCO menetapkan sebagai “World Day Book” atau Hari Buku Sedunia peringatan ini sudah di tetapkan Sejak tahun 1995. Tanggal tersebut bertepatan dengan kematian beberapa penulis ternama dunia yang berpegaruh pada jamannya, sebut saja seperti Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, serta Joseph Pla dan beberapa penulis juga lahir Vladimir Nabokov, Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Haldór Laxness. World Book Capital City 2016 jatuh kepada Wroclaw (Polandia). Dan Conakry (Republik Guinea) menjadi kandidat yang dipertahankan sebagai World Book Capital City 2017. World Book Capital City adalah pengakuan eksklusif simbolis dari UNESCO atas program terbaik yang didedikasikan untuk buku dan membaca.

Sebelum jauh-jauh berambisi tentang World Book Capital City di Indonesia, kita masih berkutik pada pembudayaan membaca di lini pendidikan dasar. Sudah bukan menjadi rahasia mengenai riset minat baca di Indonesia, Berdasarkan data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Di negara maju setiap penduduknya membaca 20 hingga 30 judul buku setiap tahun. Sebaliknya di Indonesia, penduduk hanya membaca paling banyak tiga judul buku dan itu pun masyarakat usia 0-10 tahun.

Menilik fakta-fakta tersebut, per tahun 2015 silam kewajiban membaca sudah masuk ke ranah konstitusional, lewat Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Permendikbud) No. 21/2015 tentang kewajiban membaca selama 15 menit. Dan di tahun 2016 ini adalah tahun sosialisasi regulasi tersebut. Sebanyak 514 sekolah unggulan dipilih Kemendikbud sebagai mitra, yang nantinya masing-masing sekolah-sekolah tersebut perlu melanjutkan estafet binaan ke 5 sekolah lainnya. Langkah tersebut adalah angin segar yang memicu optimisme terhadap budaya membaca. Seperti efek domino, peraturan pemerintah pusat itu pun mengimbas pada program-program pemda dan sekolah-sekolah. Penumbuhan minat baca pun menjadi konsen beberapa pemerintah daerah, misalnya Yogyakarta yang disinyalir sebagai kota dengan minat baca tertinggi se-Indonesia. Pemerintah kota Surabaya, DKI Jakarta, Bandung, Jayapura, Depok, Sidoarjo, Kediri dan beberapa kota lainnya mulai menggulirkan program-program yang pro terhadap pembudayaan membaca.
Namun pemerintah pusat dan pemerintah daerah bukanlah dwi-tunggal yang menjadi aktor utama dalam misi tersebut.

Bersyukurnya, hari ini kita melihat ada ribuan komunitas baca atau organisasi nirlaba dengan caranya masing-masing juga fokus terhadap pembudayaan minat baca. Bersyukurnya, Indonesia masih memiliki ribuan orang tanpa kepentingan yang menuangkan kegelisahan mereka terhadap minat baca dalam bentuk aksi nyata. Perusahaan-perusahaan multinasional pun mulai melirik persoalan minat baca sebagai ladang emas garapan program CSR-nya (Corporate Social Responsibilty). Komunitas-komunitas, organisasi-organisasi nirbala, serta program CSR perusahaan adalah stakeholder pemerintah dan sekolah-sekolah dalam misi pembudayaan minat baca.

Jika kembali kepada esensi dari perayaan Hari Buku Dunia, yaitu sebagai bentuk penghargaan antara penulis, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas dan masyarakat umum. Semuanya bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi, serta meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan. Maka hari ini, yang belum kita lihat adalah sinergitas antara pemerintah, industri penerbitan buku, dan distributor-distributor buku yang dapat menggemakan minat baca. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tersebut masih mengeluhkan soal harga-harga buku yang kian mencekik intelektual mereka. Kita masih ketinggalan dengan India dan beberapa negara lain yang sudah menerapkan program buku murah atau yang biasa disebut dengan low-price edition book.

Kemalasan membaca buku dan kesadaran untuk mengembalikan buku pinjaman, sepertinya masih menjadi hal yang dianggap biasa oleh sebagian orang. Padahal sejatinya, itu adalah bentuk kezaliman. Malas membaca adalah zalim pada diri sendiri dan enggan mengembalikan buku pinjaman adalah zalim kepada pemiliknya sekaligus kepada pembaca yang lain. Dengan tidak mengembalikannya, membuat pemiliknya terbebani dengan biaya tambahan yang harus ia keluarkan. Syukur-syukur bila koleksi buku itu masih banyak cetakannya. Selain itu, hak pembaca yang lain menjadi terhalang karenanya. Terhalang dalam mendapatkan ilmu. Bukankah menghalangi orang lain dalam memperoleh pengetahuan termasuk bentuk kezaliman?

Karena itu, mari kita hargai para pejuang literasi kita. Mereka telah mengambil bagian dalam perjuangan mencerdaskan anak bangsa. Jika tak bisa membantu dalam berkontribusi, setidaknya jangan halangi mereka dalam menyebarkan kebaikan lewat buku bacaan. Sebab, mereka sedang mengamalkan perintah Tuhan lewat firman-Nya, “Iqra”.
Dengan membaca pintu pengetahuan akan terbuka. Kita tidak perlu menyelam ke dasar laut untuk mengetahui segala sesuatunya di sana. Kita juga tidak perlu melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia untuk sekadar melihat ciptaan-Nya. Kita pun tak perlu repot-repot melakukan penelitian hingga ke akhirat. Seperti kata Bung Hatta ” Aku rela dipenjara aasalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Oleh sebab itu, dengan membaca, kita akan menjadi tahu. Semakin banyak kita membaca maka semakin banyak pula kita mengumpulkan data dan kata.

*) Penulis adalah mahasiswi ilmu administrasi negara Fisip Umrah

Pos terkait